Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa itu Takhirj Hadist ? Pengertian, Contoh Takhirj Hadist dan Semua tentang Takhirj Hadist

A.PENGERTIAN TAKHRIJ HADITS 

l-Takhrij menurut lughoh berasal dari kata خَرَج َ yang berarti tampak atau jelas. Takhrij secara bahasa berarti juga berkumpulnya dua perkara yang saling berlawanan dalam satu persoalan, namun secara mutlak, ia di artikan oleh para ahli bahasa dengan arti mengeluarkan ( al istinbat ) , melatih, atau membiasakan dan menghadapkan. 
       
Takhrij hadist menurut istilah adalah, 
الْتَخْرِيْجُ هُوَ الدِّلاَلَةُعَلَى مَوْضِعِ الْحَدِيْثُ فِى مَصَادِرِهِ الأَصْلِيَّةِ الَتِي أَخْرِجَتْهُ سَنَدُهُ بِبَياَنٍ مَرَتَبَتِهِ عِنْدَ الحَاجَةِ. 
Artinya adalah : 
Takhrij adalah penunjukkan terhadap tempat tempat hadits di dalam sumber aslinya yang di jelaskan sanad dan martabatnya sesuai keperluan 



Apa itu Takhirj Hadist ? Pengertian, Contoh Takhirj Hadist dan Semua tentang Takhirj Hadist


Para muhaditsin mengartikan takhrij hadits sebagai berikut. 

1.Mengemukakan hadist pada orang banyak dengan menyebutkan para paeriwayatnya dalam sanad yang telah menyampaikan hadis itu dengan metode periwayatannya yang mereka tempuh.  


2.Ulama’ mengemukakan berbagai hadist yang telah di kemukakan oleh para guru hadis, berbagai kitab lain yang susunannya di kemukakan berdasarkan riwayatnya sendiri, atau para gurunya, siapa periwayatnya dari para penyusun kitab atau karya tulis yang di jadikan sumber penulisan. 

3.‘Mengeluarkan’, yaitu mengeluarkan hadist dari dalam kitab dan meriwayatkannya. Al Sakhawiy mengatakan dalam kitab fathul mugits sebagai berikut, “takhrij adalah seorang muhadist mengeluarkan hadis hadis dari dalam ajza’” al masikhat, atau kitab kitab lainnya. Kemudian, hadis tersebut disusun gurunya atau teman temannya dan sebagainya, dan dibicarakan kemudian disandarkan kepada pengarang atau penyusun kitab itu.

4.Dalalah , yaitu menunjukkan pada sumber hadist asli dan menyandarkan hadis tersebut pada kitab syumber asli dengan menyebutkan perawi penyusunnya. 

5.Menunjukkan atau mengemukakan letak asal hadis pada sumbernya yang asli, yakni kitab yang di dalamnya di kemukakan secara lengkap sanadnya masing masing, lalu untuk kepentingan penelitian, di jelaskan kualitas sanad hadis tersebut. 

Dari uraian di atas, takhrij hadist dapat di jelaskan sebagai berikut: 

1.Mengemukakan hadist pada orang banyak yang menyebutkan para rawinya yang ada dalam sanad hadis itu. 

2.Mengemukakan asal usul hadis sambil di jelaskan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadist, yang rangkaian nya sendiri berdasarkan sanad gurunya, dan yang lainnya. 

3.Mengemukakan hadis hadis berdasarkan sumber pengambilan nya kitab kitab yang di dalamnya di jelaskan metode periwayatannya dan sanad hadis hadis tersebut, dengan metode dan kualitas para rawi sekaligus hadisnya. Dengan demikian, pen-takhri-jan hadis penelusuran atau pencarian hadis dalam berbagai kitab hadis (sebagai sumber asli dari hadis yang bersangkutan), baik menyangkut materi atau isi (matan), maupun jalur periwayatan (sanad) hadis yang di kemukakan. 

B. TUJUAN TAKHRIJ 

Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang harus mendapat perhatian serius karena di dalamnya di bicarakan berbagai kaidah untuk mengetahui sumber hadis itu berasal. Di samping itu, di dalamnya di temukan banyak kegunaan dan hasil yang di peroleh, khususnya dalam menentukan kualitas sanad hadist. 
Takhrij hadis bertujuan mengetahui sumber asal hadis yang di-takhrij. Tujuan pokok dari takhrij yang ingin di capai seorang peneliti adalah sebagai berikut.

  • Mengetahui eksistansi suatu hadis apakah benar suatu hadis yang ingin di teliti terdapat dalam buku buku hadis atau tidak. 
  • Mengetahui sumber otentik suatu hadis dari buku hadis apa saja yang di dapatkan. 
  • Mengetahui ada berapa tempat hadis tersebut dengan sanad yang berbeda di dalam sebuah buku hadis atau dalam beberapa buku induk hadis. 
  • Mengetahui kualitas hadis (maqbul/ di terima atau mardud/ tertolak). 


C. KITAB KITAB YANG TERKAIT TERHADAP MUKHARRIJ 

Dalam melakukan takhrij hadis, kita memerlukan kitab yang berkaitan dengan kitab takhrij hadis ini. Adapun kitab kitab tersebut antara lain sebagai berikut : 

1.Hidayatul bari ila tartibi Ahadisil Bukhori 

Penyusun kitab ini adalah Abdur Rahman Ambar Al-Misri At-Tahtawi. Kitab ini di susun khusus untuk mencari hadis hadis yang termuat dalam Shahih Al Bukhori. Lafazh hadis disusun menurut aturan urutan huruf abjad Arab. Namun, hadis hadis yang di kemukakan secara berulang dalam Shahih Bukhari tidak di muat secara berulang dalam kamus di atas. Dengan kemudian, perbedaan lafazh dalam matan hadis riwayat Al Bukhari tidak dapat di ketahui melalui kamus tersebut. 

2.Mu’jam Al-Fadzi wala siyyama Al Gariibu Minha atau Fuhris litartibi Ahaditsi Shahibi Muslim. 

Kitab tersebut merupakan salah satu juz, yakni juz ke-5 dari kitab Shahih Muslim yang di sunting oleh Muhammad Abdul Baqi. Juz ke-5 ini merupakan kamus terhadap juz ke 1-4 yang berisi : 

  • Daftar urutan judul kitab, nomor hadis, dan juz yang memuatnya. 
  • Daftar nama para sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis yang termuat dalam Shahih Muslim. 
  • Daftar awal matan hadis dalam bentuk sabda yang tersusun menurut abjad serta menerangkan nomor nomor hadis yang di riwayatkan oleh Bukhori bila kebetulan hadis tersebut juga di riwayatkan oleh Bukhori. 


3.Miftahus Sahihain 

Kitab ini tersusun oleh Muhammad Syarif bin Mustafa At Tauqyah. Kitab ini dapat di gunakan untuk mencari hadis hadis yang di riwayatkan oleh Muslim. Akan tetapi, hadis hadis yang di mjuat dalam kitab ini hanyal hadis hadis yang berupa sabda (qauliyah) saja. Hadis tersebut di susun menurut abjad dari awal lafazh matan hadis. 

4.Al-Bugyatu fi Tartibi Ahaditsi AHilyah 

Kitab ini di susun oleh Sayyid  Abdul Aziz binAs Sayyid Muhammad bin Sayyid Siddiq Al Qammari. Kitab hadis tersebut memuat dan menerangkan hadis hadis yang tercantum dalam kitab yang tersusun Abu Nuaim Al 
Assabuni (w.430) yang berjudul Hilyatu Auliyai wathabaqatul Asfiyani. 

5.Al-Jami’us Shagir. 

Kitab ini di susun oleh Imam Jalaludin Abdurrahman As Suyuthi (w.91). kitab  kamus hadis ini memuat hadis hadis yang terhimpun dalam kitab himpunan kutipan hadis yang di susun oleh As Suyuthi juga, yakni kitab Jam’ul fawami’i. 

6. Al Mu’jam Al Mufahras li Al fadzil Hadis Nabawi 

Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orientalis. Di aantara anggota tim yang paling aktif dalam kegiatan proses penyusunan adalah Dr. Arnold John Wensinck (w. 939 M), seorang profeso bahasa bahsa Semit, termasuk bahasa Arab di Universitas Leiden, negara Belanda.  

D. METODE TAKHRIJ 

Sebelum seseorang melakukan takhrij suatu hadis, terlebih dahulu ia harus mengetahui metode atau langkah langkah dalm takhrij sehingga akan mendapatkan kemudahan kemudahan dan tidak ada hambatan. Hal pertama yang perlu di maklumi adalah teknik pembukuan buku buku hadis yang telah di lakukan para ulama dahulu memang beragam dan banyak sekali macam macamnya. Di antaranya ada yang secara tematik, pengelompokan hadis di dasarkan pada ema tema tertentu, seperti kitab Al Jami’ As Shahih li Bukhori dan Sunan Abu Dawud. Di antaranya lagi ada yang di dasarkan pada nama perawi yang paling atas, yaitu para sahabat, seperti kitab Musnad Ahmad bin Hambal.  Buku lain lagi di dasarkan pada huruf permulaan matan hadis di urutkan sesuai dengan alpabhet Arab seperti kitab Al-Jami’ Ash Shagir karya As Suyuthi, dan lain lain. Semua itu di lakukan oleh para ulama’ dalam rangka memudahkan umat Islam untuk mengkajinya sesuai dengan kondisi yang ada.  

Secara garis besar, ada 2 cara men-Takhrij hadits dengan menggunakan kitab kitab sebagimana telah di sebutkan di atas. Adapun dua macam cara takhrijul hadits  yaitu : 

1.Metode takhrij hadits menurut lafazh pertama.

Yaitu suatu metode yang berdasarkan pada lafazh pertama matan hadits, sesuai dengan urutan huruf hija’iyyah dan alpabhetis.  

Maksud takhrij dengan lafazh ini adalah takhrij dengan kata benda (kalimat) atau kata kerja ( fi’il), bukan kata sambung (kalimah huruf) dalam bahasa arab mempunyai asal akar dari tiga huruf. Kata itu di ambil dari salah satu bagian dari teks hadis yang mana saja selain kata sambung / kalimah huruf. Kemudian di cara akar kata asal dalam bahasa arab yang hanya tiga huruf, biasanya di sebut fi’il tsulatsi . jika kata yang di cari dalam hadis مُسْلِمٌ misalnya, maka harus di cari asal akar katanya, yaitu dari kata سَلِمَ  setelah itu baru membuka kamus bab س bukan bab م. Demikia seterusnya. 

Kamus yang di gunakan untuk mencari hadits adalah Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfazh Al Hadits An Nabawi. Lafazh yang di muat dalam kitab Al Mu’jam ini bereferensi pada kitab induk hadits sebanyak 9 kitab, yaitu : 
  • Shahih Al Bukhari dengan lambang خ
  • Shahih Muslim dengan lambang م
  • Sunan Abu Dawud dengan lambangد
  • Sunan At-Tirmidzi dengan lambang ت
  • Sunan An-Nasa’i dengan lambang ن
  • Sunan Ibnu Majah dengan lambang جه
  • Sunan Ad-Darimi dengan lambang دي
  • Muwatha’ Malik dengan lambang ط
  • Musnad Ahmad dengan lambang حم


Contoh hadits yang ingin di Takhrij adalah : 

لاَ تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحاَبُّوا 
Pada penggalan teks di atas dapat ditelusuri melalui kata kata yang di garis bawahi. Andaikata dari kata تَحاَبُّوا  dapat dilihat babح  dalam kitab Al Mu’jam karena itu berasal dari kata حَبَّبَ . 

2.Metode takhrij menurut lafazh lafazh yang terdapat dalam hadist 

Yaitu suatu metode yang berlandaskan pada kata kata yang terdapat dalam matan hadits, baik berupa kata benda ataupun kata kerja. 
Misalnya ketika ingin mencari hadits yang populer di tengah tengah santri dan mahasiswa.   
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ 
Kita buka kitab Al-Jami’ Ash-Shagir bab ط kita di temukan pada juz 2 hlm. 54 ada 4 tempat periwayatan di sebutkan. 

3.Mencari hadits berdasarkan tema. 

Upaya mencari hadist terkadang tidak di dasarkan pada lafazh matan (materi) hadis, tetapi di dasarkan pada topik masalah.  
Misalnya bab Al-Khatam, Al-Khadim, Al-Ghusl, Ad-Dhahiyah, dan lain lain. Salah satu kamus hadis tematik adalah Miftah min Kunus As-Sunnah oleh Dr. Fuad Abdul Baqi, terjemahan dari aslinya berbahasa Inggris A Handbook of Early Muhammadan karya A.J Wensinck pula. Kitab kitab yang menjadi referensi Kamus Miftah tersebut sebanyak 14 kitab, lebih banyak dari pada Takhrij bi Lafzhi, yaitu 8 kitab yang sebagaimana di tambah 6 kitab lain, masing masing di beri singkatan yang spesifik. 

4.Takhrij melalui Perawi yang Paling Atas ( Bi Ar-Rawi Al-A’la )

Takhrij ini menelusuri hadis melalui perawi yang paling atas dalam sanad, yaitu di kalangan sahabat (mustahi isnad) atau tabi’in (dalam hadis mursal). Artinya, peneliti harus mengetahui terlebih dahulu siapa sanadnya di kalangan sahabat atau tabi’in, kemudian dicari dalam buku hadis Musnad atau Al-Athraf. Di antara kitab yang di gunakan dalam metode ini adalah kitab Musnad atau Al-Athraf. 
Contoh mentakhrij sebuah hadist dalam Musnad Ahmad: 
عَن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ الأَذاَنَ وَيُوتِرَ الإِقاَمَةَ 
Dalam hadis tersebut sahabat perawi sudah diketahui, yaitu Anas bin Malik, terlebih dahulu nama Anas itu dilihat pada daftar isi (Mufahras) sahabat pada awal kitab Musnad, maka di dapati adanya sahabat Anas pada Juz 3 hlm. 98. Bukalah kitab dan halaman tersebut maka akan didapatkan Musnad Anas, dicari satu persatu hadis yang dicari sampai ditemukan, maka ditemukan pada hlm. 103. Dari pen-takhrij-an ini dapat di katakan “Hadits tersebut di takhrij oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya juz 3 hlm 103”. 

5.Takhrij dengan Sifat (Bi Ash-Shifah) 

Telah banyak disebutkan sebagaimana pembahasan diatas tentang metode Takhrij. Seseorang dapat memilih metode mana yang tepat untuk ditemukannya sesuai dengan kondisi orang tersebut. Jika suatu hadis sudah dapat di ketahui sifatnya, misalnya Maudhu’, Shahih, Qudsi, Mursal, Mutawatir, dan lain lain sebaiknya di takhrij melalui kitab kitab yang telah menghimpun sifat sifat tersebut. Misalnya , hadis Maudhu’ seperti Al-Maudhu’at karya Ibnu Al-Jauzi, mencari hadits mutawatir takhrijlah melalui kitab Al Azhar Al-Mutanatsirah ‘an Al-Akhbar Al-Mutawatirah, karya As-Suyuthi, dan lain lain, disana seseorang akan mendapati informasi tentang kedudukan suatu hadis, kualitasnya, sifat sifatnya, dan lain lain terutama dapat dilengkapi dengan kitab kitab syarahnya. 

Footnote:

[1] M.Agus Sholahuddin. Ulumul hadits.hlm. 189, [2] Ibid. Hlm. 190, [3] M.Agus Sholahuddin. Ulumul hadits.hlm190, [4] Ibid, [5] Ibid, [6] ibid, [7] ibid, [8] M.Agus Sholahuddin. Ulumul hadits.hlm190, [9] Ibid. Hlm. 191 [10] ibid [11] Dr. H. Abdul majid khon, M.Ag. Ulumul hadits.hlm. 130 [12] Dr. H. Abdul majid khon, M.Ag. Ulumul hadits.hlm.194 [13]  Ibid [14] M.Agus Sholahuddin. Ulumul hadits.hlm.194 [15] Ibid. Hlm 195 [16] Ibid. [17] Ibid. [18] Dr. H. Abdul majid khon, M.Ag. Ulumul hadits.hlm. 131 [19] M.Agus Sholahuddin. Ulumul hadits.hlm196 [20] Dr. H. Abdul majid khon, M.Ag. Ulumul hadits.hlm.133 [21] M.Agus Sholahuddin. Ulumul hadits.hlm197
[22] M.Agus Sholahuddin. Ulumul hadits.hlm197 [23] Dr. H. Abdul majid khon, M.Ag. Ulumul hadits.hlm.134 [24] M.Agus Sholahuddin. Ulumul hadits.hlm197  [25] Dr. H. Abdul majid khon, M.Ag. Ulumul hadits.hlm.139 [26] Ibid hlm 140